Label

3gp (2) aplikasi (10) artikel (4) berita (14) Blog (51) cerpen (8) Dewasa (4) download (31) film (2) free (4) game (3) gratis (3) hack (2) info (22) Kesehatan (8) mobile (16) movie (7) mp3 (2) news (7) renungan (14) Sex (12) software (18) story (12) tips (36) Tips Cinta (9) trik (18) Tutorial (43)

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen Sahabat Persaingan Antar Genk

Minggu, 10 Oktober 2010

Persaingan Antara Genk



Nama Pelaku :
Anisa Nur Hasna
Singgih Hadi Prasetyo
Rizky Hikmawati
Ponirin
Putri Kurniasih

Setting : Di dalam kelas

Di suatu hari terdapat pertemuan yang menegangkan di suatu sekolah yang sangat terkenal di kotanya. Dan pertemuan ini berujung persahabatan yang diberi nama “GENK EXPEDISI CEKY DOTCH” yang beranggotakan Nana, Ponirin, Singgih, dan terdapat juga persahabatan “GENK JOKER” (JOMBLO KEREN) yang beranggotakan Putrid an Rizky, kedua genk inbi selalu bersaing dan tak pernah ada kedamaian. Dan tiba-tiba saat Nana duduk sendirian singgih dating mendekati nana.

Singgih : “Pagi brow…! (menepuk pundak Nana)
Nana : “Hey… Pagi juga, Eh u tahu Ponirin gak? Kok dari tadi gak kelihatan?”
Singgih : “Aq juga gak tahu! Ech na, ada kabar buruk, si “GENK JOMBLO KEREN” mau daftar jadi ketua OSIS!” (sambil mendekati Nana)
Nana : “Apa…!!! Gak boleh dibiarkan nih semua!” (sambil menepuk meja)
Singgih : “Gimana kalau kita juga mendaftar jadi ketua Osis? Dan jadi wakilnya? Kan pasti seru tuh…??? “GENK EXPEDISI CEKY DOTCH” kan genk paling gaul abis ya nggak!!! (dengan penuh percaya diri)
Nana : “So pasti…!!! Pokoknya genk kita gak boleh kalah sama mereka (dengan wajah gembira)

Tak lama kemudian Ponirin dating dengan membawa setumpuk poster di tangannya dan menghampiri sobat-sobatnya.
Ponirin : “Hay… Guyz…!!!
Nana : “Hey.. kamu kemana aja! Kok baru muncul ( sambil penasaran dengan yang dibawa Ponirin apa?)
Ponirin : “Hey… gimana nih sama calon Ketua Osis! Katanya si Rizky sama Putri yang mau daftar loohh…!!!
Singgih : “Huh ketinggalan jaman kamu…!!!”
Ponirin : “YA.. bagus deh kalo gitu! Aku sebagai panitia juga seneng kok kan mereka juga anak berbakat”
Nana : “Bagus…!!! Gimana maksudmu? Harusnya kita takut dan kalo genk kita yang paling gaul abis kalah saing ( sambil marah-marah kepada Ponirin)
Ponirin : “Ya… bukannya gitu aku tetep dukung kok. Kita kan satu Genk, Cuma aku mau kita semua bersemangat aja”
Singgih : “Ouh… ku kira kamu malah milih gemk “Jomblo Keren” ( sambikl ketawa )
Ponirin : “Ya gak mungkinlah aku Cuma baik di depan mereka aja”
Nana : “Lha… trus kenapa u masih aja nemepelin posternya si “Genk Joker” yang sok cool itu!”
Ponirin : “Ah… nie aja disuruh sama Kepala Sekolah…”
Serentak : “Ouwwhhh….!!!”

Tiba-tiba munculah anak Genk “JOKER” dan dating-datang langsung menempel poster.
Singgih : “ Wah…apa2an u Put? Datang2 langsung main temple aja “Dasar anak kampungan!!!”
Putri : “ Biarin aja, kita juga berhak donk menempelkan poster di sini ( sambil nempelin poster lagi )
Rizky : “ Udah udah gak usah diladenin tu anak, emang nyebelin( dengan rasa kesal pada nana dan singgih )
Nana : “eh kamu ! panya kag? Lie? Harusnya ngaca donk u tu up!!!
Pokoknya yg blm ditempel adalah poster ( GENK EXPEDISI CEKY DOTCH ) genk plg GAUL BEKEN & gak kampungan. Anak siapa sie u sook cool banget mw di atas ialah
Putri : “kalo punya mulut itu di jaga!”
Rizky : “Mau u tu apa si!!? U berani ama w!!! ( dengan menantang )
Nana : “Apa…!!! Ya berani lah… Cuma sama u doank uwh… gak ada papa-apanya…” ( sambil marah-marah )
Singgih : “ u gak nyadar-nyadar ya ? Genk EXpedisi Ceky Dotch tu Genk paling beken di school!!!”
Ponirin : ”Stop-stop bias nggak sih kalian diem berantem terus ( sambil melerai )
Semua : “Diaaaaammmm……. !!! ( serentak )
Putri : “ Hey Pon bilangin ma tu ma sobat2 mu yang masih anak manja dan gak usah sok2 populer ( sambil marah )
Nana : “Biarin aja emank terbukti kan Genk Paling gaul tu Genk “EXPEDISI CEKY DOTCH”
Singgih :” bener tuh ? bilang aja kalo sirik.
Ponirin : “Sudah-sudah buktikan saja besok sapa yang jadi ketua Osis!!” ( dengan rasa kesel )

Saat itulah penilaian ketua osis dimulai dengan perasaan yang menegangkan.
Singgih :”Teman-teman saya berjanji jika saya yang jadi ketua Osissaya akan jadi teladan yang baik, disiplin, tanggung jawab, dan adil ( dengan meyakinkan semua teman2 di depan siswa )
Putri : “Alah… Omong Kosong!!!!”
Nana : “Apa u bilang….!!! ( dengan menampar putri )
Ponirin : “Sudah-sudah sebenarnya kita juga gak tahu siapa yang jadi ketua osis??”
Rizky :” Dan saya juga berjanji akan lebih baik dari “Genk Expedisi Ceky Dotch”
Serentak :”Dasar Gak tahu diri…!!!!”

Setelah itulah diumumkan siapa yang jadi ketua osis
Ponirin :” Semangat Genk Expedisi Ceky Dotch…!!! Semangat… semangat… ( dengan angkat tangan )
Ponirin :” Saat inilah yang pastinya ditunggu-tunggu dan yangmenjadi ketua osis adalah Genk Expedisi Ceky Dotch…!!!”
Serentak :” Ya….. Kita menang….!!!”
Putri an Rizky : “Slamat ya…!!!! ( dengan rasa tidak ikhlas ) ya semoga aja u bias buktiin ke teman2 lah…!!”
Nana dan Singgih :” So…! Pasti aku akan buktikan ni semua ( dengan rasa percaya diri )

Setelah tak lama menjadi ketua osis teman-teman pada menjauhi “GENK EXPEDISI CEKY DOTCH” tak disukai oleh semua teman-teman dan saat itulah “GENK EXPEDISI CEKY DOTCH” mulai khilaf apa yang dilakukan selama ini salah kepada “GENK JOKER” dan “GENK EXPEDISI CEKY DOTCH”pun minta maaf kepada Genk Joker”

Ponirin : “Sebentar aku minta maaf sama u atas semua kesalahan selama ini yang seringkali menghina Genk Joker aku minta maaf banget ma u??”
Nana :” Aku juga minta maaf Put, Riz…??” (dengan meratapi kesalahan )
Singgih :”Iya aku juga minta maaf selama ini aku sering menjelekk2in ??
Putri :”Halah paling Cuma omong kosong ( dengan rasa kesal )
Rizky :”Udah-udah maafin aja manusia kan pasti punya salah put? ( dengan merasa kasihan kepada Genk Expedisi Ceky Dotch )
Putri : “Tapi dulu kan Genk kita selalu dihina ( dengan keras kepala )
Rizky :”Ya… udah kalian aku maafin tapi u juga janji gak bakal ngulangin kesalahanmu lagi. “
Putri : “Ok aku juga sama kalian bertiga … eitz….! Jangan lupa traktir aku bakso 3 porsi…!!”
Serempak :” Suweeerrrrr…. !!! makasih ya… yuk aku traktir u ke kantin ( kata nana )

Setelah selesai makan-makan kedua genk ini bias berdamai dan berakhir persahabatan.

sekian…

Read Post | komentar

Cerpen Ku Tak Tahu

Ku Tak Tahu
Oleh : Menuk Supratmi



Malam itu aku bersama keluarga menonton TV diruangan depan, kami tertawa bersama sambil menikmati cemilan yang sudah ada. Tiba-tiba Mas Tono yang sudah tiga hari tidak dirumah,pulang dalam keadaan muka kusam.Aku mulai bertanya dalam hati,apa yangterjadi dengan Mas Tono.Beberapa menit kemudian Mas Tono mengatakan alasan dia pulang ke rumah.Dan ternyata,Mas Tono pulang hanya untuk meminta uang dengan jumlah yang cukup banyak.Namun,waktu itu tidak mempunyai uang,sehingga ibu tidak memberinya uang.Tetapi Mas Tono terus memaksa dan marah-marah tanpa menghiraukan kami yang ada diruangan itu.Tak lama kemudian Ayah mulai angkat bicara,Ayahku berusaha untuk menjelaskan semuanya,tetapi Mas Tono tetap keras kepala.Kami hanya terdiam melihat mereka berseteru.Mas Tono yang mulai tersinggung dengan ucapan ayah, tiba-tiba bangun dari tempat duduk dan pergi meninggalakan rumah. Setelah Mas Tono pergi, suasana di rumah menjadi sunyi. Ibu tak henti-hentinya menangis, sednagkan ayahku duduk diruang tamu. Mbak Ratih mencoba untuk menenangkan Ibu sambil memijit kakinya, sedangkan aku berada di kamar menemani adikku tidur.
Pagi harinya, ketika aku ingin berangkat sekolah perasaanku gelisah, rasanya berat untuk meninggalkan rumah. Di sekolah pun aku hanya diam, diam, diam dan diam. Apa yang aku takutkanpun terjadi, saat aku sedang belajar di sekolah ayah dan ibuku bertengkar karena Mas Tono, sampai-sampai Ibu sudah berkemas-kemas ingin meninggalkan rumah, tetapi Mbak Ratih berhasil mencegah Ibu.
Ketika bel pulang Sekolah berbunyi, aku perlahan-lahan berjalan keluar dari kelas, aku melihat Mbak Ratih berdiri di depan gerbang dan akupun berlari mendekatinya.
“Lhooo… kok Mbak ada disini?” aku kan gak minta dijemput?” (tanyaku kepada mbak Ratih)
“Cepetan naik…!!!” (tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menyuruh aku untuk naik sepeda motor)
Di jalan aku hanya diam.
“Kamu udah makan ndut…? (Tanya Mbak Ratih)
“Belum Mbak” (jawabku)
“Ya udah, ntar kita cari warung, soalnya hari ini kita tidak akan pulang…”
“Maksudnya…?” (Tanyaku)
“Ntar tak jelasin semuanya”.
“Ya udah” (jawabku)
Tak lama kemudian, saat kami sampai di Panta Keburuan, Mbak Ratih menceritakan semuanya sambil menangis. Akupun tidak bias menahan airmata, aku menangis karena bingung cobaan apa yang sedang kami hadapi. Setelah puas menangis Mbak Ratih mengajakku makan mie di warung. Selesai makan kami bingung mau pergi kemana?, kami duduk sambil menunggu sunset (matahari terbenam).
Ketika adzan maghrib, tiba-tiba ada telephone dari saudaraku. HP terus berbunyi tapi Mbak Ratih tak ingin mengangkatnya.
“Telfon dari siapa mbak…..? ko gak diangkat’’(tanyaku)
“Dari Mas Tri”
“Owww,diangkat aja mbak,low penting gimana?
“Paling juga nyuruh kita pulang Ndut…..”
“Tapi aku takut Mbak low ampe ntar ad apa-apa di rumah”
Setelah mendengar ucapanku,Mbak Ratih segera mengangkat telfonnya.Kami mendengarkan semua nasehatnya dan kami pun pulang ke rumah.

sekian...

Read Post | komentar

Cerpen Cinta 2012

2012
By : Aulia Ainun



Kelakuan Vina sekarang mulai agak aneh. Itu begitu jelas terlihat dari tingkahnya yang tiba-tiba sok centil kayak CPCP(Curi Pandang Cari Perhatian) gitu. Sok imut juga, kadang rada-rada narsis gitu.
Sefi sebagai sahabat dekatnya bingung juga. Ni anak kenapa? Apa kesambet setan pantai? Soalnya hari minggu, seminggu yang lalu mereka sempet mejeng sejam di pantai sambil duduk-duduk di kedai makan sekalian belie s dawet. Sruput… sruput… sambil liatin cowok-cewek yang lalu lalang. Jadi kali ajaj pikiranyya nglayang-nglayang ngelamun nggak genah.
“Sefi, tolong kamu jelaskan ulang tentang Stratifikasi Sosial menurut pendapat teman-teman kamu barusan”. Sefi tersadar.
“Oh ya, ada apa bu?” saya kurang jelas”.
“Makannya, kalau ngalamunin aku nggak segitunya kali’.
Bisik Vina rada mencondongkan badannya ke tubuh Sefi.
“Ih GR lu!” ucap Sefi nggak berani teriak-teriak.
“Ibu minta, jangan ngelamun di kelas Ibu!”
“Oh.. ya.. ya bu..”
Kemudian pelajaran berjalan seperti semula, murid-murid dengan penuh khidmat mendengarkan.
“Ada masalh ya Sef?’ Tanya Vina masih dengan keadaan menghadap ke depan dan pura-pura berkonsentrasi dengan penjelasan-penjelasan bu Siska.
“Ini semua gara-gara kamu!” sahut Sefi sengit. Suarananya ditekan supaya pelan yang mendengarkan hanya Vina. Sekarang perhatian Vina betul-betul tercurah ke Sefi. Ia belum ngerti maksud Sefi.
“Coba kamu nggak aneh-aneh”
“Maksud kamu?” wajah Vina 10cm disamping Sefi, ada getar khawatir disana.
“Cob…”
“Vina, ada apa? kalian tidak bertengkar kan?”
Lagi-lagi Vina dan Sefi jadi pusat perhatian.
“Jika tidak menghendaki pelajaran Ibu, silahkan keluar!”.
Kejam…!!! Satu kata yang terlintas di benak Sefi yang punya salah Vina masa aku dibawa-bawa, ini namanya gak adil!! gerutu Sefi dalam hati.
Gak pake diperintah dua kali, Vina dan Sefi segera angkat pantat dari tempat duduknya.
“Permisi bu…” ucap keduanya…
Vina segera menyeret Sefi ke taman sekolah kemudian mendudukannya.
“Kenapa sih kamu Sef?’
Sefi tetap membisu, malah berekspresi cemberut.
“Kalau kamu nggak mau nyelesein semua ini sekarang, aku dah nggak punya waktu lagi besok”.
“Emangnya masalah apa?” Tanya Sefi yang bias ditafsirkan, mimiknya kayak orang bloon tanpa dosa gitu.
“Ya ampun, saat di kelas tadi…”.
“O…?? yang mana aku lupa suerr..’
“Karena aku? Masalah apa sih??”
Sefi merenung sejenak, sedikit mengingat, menimbang, biar kata-katanya nggak menyinggung perasaan Vina.
“Kamu nyadar nggak kalau kamu sok exis!”
Vina mengerutkan dahi, kemudian tertawa ngakak karena ngeliat wajah penasaran Sefi lantas berganti marah.
Sefi semakin penasaran nih. Aneh ajasi Vina dilihat-lihat mirip orang gila yang lagi kumat gitu.
“Kamu dah baca Koran belum Sef?”
Sefi tambah bingung, apa hubungannya orang gila sama Koran? Eh salah , Si sok exis sama Koran?
“Belumlah, emangnya Koran di depan perpus dah diganti?”
Gak tahu, yang ini Koran minggu non”
“Nggak”
“Kalau kamu baca, kamu juga pasti bakal ikut jejakku”.
“Hah?,nggak salah tuh?” ucap Sefi spontan, ikut sok exis, moga-moga nggak deh. Mau dikasih mana harga diri ini?. Dirongsokkin aja? Ya janganlah.
“Berita intinya gini, pada tanggal lupa berapa gitu ditahun 2012 dunia akan kiamat, nah kamu dah baca belum? Ada filmnya kan?”
Sefi nggak bias nahan tawanya “ha… ha… terus apa hubungannya?”
“Ya ampun Sef, secara 2 tahun lagi kiamat. Ku belum punya kecengan, paling tidak aku bias ngrasain gimana sih pacaran itu?. Sekali dalam hidup’.
“Ah korban berita lu!kiamat kan nggak ada yang tahu kapan, kecuali Allah. Masa nggak inget sih”.
“Ya emang sih , tapi Sef, jangan-jangan nanti malah kiamatnya diajukan jadi tahun 2011 atau 2010 yah Sef bayangin aja kita mati sia-sia, belum punya pacar, nikah juga belum, apalagi punya anak, nggak ngrasain jadi nenek, waduh”.
Sefi tertegun, maksudnya Vina? Dia sok jablai gitu buat cari kecengan mennggulangi kiamat dengan tanpa status jomblo 4ever.
“Kamu dong kan?”
Tiada jawaban dari Sefi sendiri bingung mau bilang apa? Masalahnya Vina semakin aneh aja. Jadi dia nggak kesambet setan pantai> tapi kerayu setan.
“Donglah, tapi itu nggak realitas banget, kayak anak SMP tauk. Mending kita banyakin ngamal.’
“Ah Sef, kamu nggak prend gitu sih?”
Tanpa menjawab pertanyaan vina, Sefi cabut dengan tidak mengucap sepatah katapun seperti biasa ketika mereka berpisah. See you, good bye, atau yang lainnya.
Ada rona sesaat dan kecewa di muka Vina.


Sehari berlalu belum ada tanda Vina akan menjadi Vina yang dulu. Malah hari kedua setelah persahabatan Vina dan Sefi retak dengan bangganya Vina menggandeng Doni, cowok kuliahan yang jaban pagi, siang, pas pulang sekolah nongkrong di depan sekolah Vina tepatnya di dekat kost nya bias dibilang cakep sih orangnya.
Tiap hari yang diceritain doni, Doni, Doni terus hingga akhirnya Sefi minta tukar tempat sama Dawi. Soalnya Sefi bosen aja, tiap detik Cuma Doni yang diceritain, kalau nggak keajaiban kiamat 2012, hingga mempertemukannya dia sama sang pangeran Doni.
Baru diawal minggu yang cerah, saat upacara bendera, Vina bersikukuh untuk berdiri disamping Sefi sampai debat kusir sama Mela.
Dan akhirnya Vinalah yang menang, dengan mau ngasih info penting buat Sefi.
Saat pidato Pembina upacara, Vina menyenggol lengan Sefi “aku minta maaf dah buat kamu bingung ya Sef”. Bisik Vina.
Sefi menatap Vina Penuh makna. Sepertinya sahabatnya sudah normal kembali nih. Tapi pula perlu dicurigai selanjutnya tetap.
Aku sudah putusin kak Doni, alasanku simple tapi nggak terima, malah nyumpahin aku gitu.’
Emang alasan kamu apa Vin? Kamu konsen belajar fulu? Atau capek pacaran?” wah kalian berarti lagi cuti pacaran dong sekarang”.
Vina membiarkan Sefi bermain-main dengan pikiran barunya setelah Sefi berhenti menebak dengan awal helaan nafas.
“Karena, aku mau jomblo dulu sampai 2012”. Sahut Vina lugu.
Hampir saja Sefi mengguncang-guncang tubuh Vina, kalau saja tak ingat lagi upacara.
Hanya wajah tak mengerti Sefi mengomentari pertanyaan Vina.
“Gila lu” ujar Sefi
“Ini bukan gila, tapi realitas, aku bukan anak SMP lagi Sef”.
“Terus?”
“Ya, buat pengalaman aja” sahut Vina gampang.
“Nggak nyesel 2012 kiamat lu..?” goda Sefi yang tak karuan saja membuat Vina Jadi Salting.
“Nggaklah, aku kan dah pernah pacaran”.
“O…”
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak mereka dan menyuruh balik ke kanan, kemudian digiring ke tempat anak-anak yang nggak lengkap atributnya.
“Harap tenang” pesan orang itu yang ternyata Pak Heri.
Vina dan Sefi hanya saling pandang kemudian berpelukan setelah beberapa hari nggak nyapa. Kembali Pak Heri menepuk kedua pundak mereka, eh malah pada meringis, jadi iklan pepsodent gitu.
Saat pelaksanaan hukuman, Cuma Vina dan Sefi yang semnagat, kapan lagi bias bersih-bersih sekolah kalau nggak sekarang, 2012 kan di prediksi kiamat, sekali dalam sehidup kan nggak apa-apa, walau akhirnya kiamatnya kapan nggak tahu. Mau diundur atau diajukan? No problem, kan dah berbuat yang sekiranya sekali dalam hidup.
Vina dan Sefi mengakhiri pekerjaan mereka dengan manis, sampah-sampah dah dibuang ke tempatnya, sebelum pulang ke kelas, disempatkan ke kantin. Ketika masih asyik memilih jajan, tiba-tiba seseorang menepuk pundak mereka, begitu menoleh mereka hanya meringis.
“Eh Pak Heri!” heran dimana-mana ada Pak Heri.
tamat
Read Post | komentar

Cerpen Sekolah Hari Yang Aneh

Hari Yang Aneh
by : Tri Hartanti



Tanggal 17 Agustus merupakan hari kemerdekaan Indonesia, Pada hari itu setiap warga Indonesia selalu memeringatinya dengan upacara bendera. Sama juga dengan SMA N 8 Purworejo yang selalu melaksanakan upacara di dua tempat, di Sekolah, dan di Lapangan Ketawang. SMA N 8 Purworejo sudah 5 kali berturut-turut ditunjuk menjadi pengibar bendera atau Paskib. Pada saat itu aku dipilih untuk menajdi pasukan 45, karena bertugas untuk menibarkan bendera, semua anggota Paskib berangkat lebih awal. Upacara dimulai pukul 08.00 WIB di lapangan Ketawang, Upacara berjalanlancar dan selesai pukul 10.00 WIB. Sebelum pulang kerumah masing-masing. Pak Guru memberi pengumuman pada anggota Paskib.
“ Anak-anak nanti sore kalian masih ada tugas untuk upacara penurunan bendera pukul 15.30 WIB, jadi kalian sebelum pukul 15.30 WIB harus sudah sampai disini jelas?” Tanya Pak Guru.
“ Jelas…!!!” dengan kompak kami menjawab.
Aku dan teman-teman pulang, sesampainya di rumah aku ngobrol-ngobrol dengan orang tua.
“ Gimana tadi upacaranya ?” Tanya ibu.
“ Alhamdulillah Lancar “. Jawabku.
“ Ibu, saya capek mau istirahat dulu” kataku.
“ Ya, sudah sana istirahat” jawab ibu.
“ Bu, nanti aku dibangunin pukul 14.00 WIB ya?”
Kataku sambil melangkahkan kaki menuju kamar, beberapa jam kemudian aku bangun dan bertanya pada diriku sendiri.
“Jam berapa ni ?”
Aku keluar dari kamar tidur dan melihat jarum jam menunjukkan pukul 14.45 WIB, aku bingung.
“ Kenapa kamu ?” Tanya ibu.
“ Aku diam”
“ Ibu kok gak bangunin aku ?” tanyaku.
“ Ibu lupa, emang kamu mau kemana? Jawab Ibu dan balik bertanya.
“Aku ka nada tugas di Ketawang”. Jawabku.
“ Tugas apa? Kamu kan gak bilang sama ibu ?” kata ibu.
“ Ya, aku yang salah” jawabku dengan muka jutek.
“ Dah sekarang kamu mandi!” kata ibu.
***
Aku mandi dan bergegas untuk berangkat upacara, aku berangkat dari rumah pukul 15.00 WIB, aku berjalan dengan tergesa-gesa, langkah kakiku percepat menuju pertigaan sangubanyu untuk menunggu bus.
Aku sudah menunggu lama, namun belum ada bus yang melintas di depanku, jantungku terasa berdenyut kencang dan terselip dibenakku.
“ Bagaimana kalau aku terlambat?”.
Pikiran itu membuatku semakin panik, Tapi tak lama kemudian bus datang dari arah utara, dengan cepatnya aku naik ke dalam bus. Di dalam bus terasa sepi Cuma ada aku dan nenek yang duduk di dekat pintu bus. Bus berjalan dengan cepat.
Aku turun di terminal Ketawang, aku berjalan sendiri ke selatan. Aku menengok jam yang ada di pergelangan tanganku, ternyata jarum jam menunjukkan pukul 15.20 WIB, aku Panik dan ketakutan.
Karena terburu-buru tak sengaja kakiku tersandung kaki orang gila yang sedang terlelap tidur di pinggir jalan. Tanpa sepengetahuanku orang gila itu menikutiku dari belakang, karena aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang akupun menengok ke belakang, ternyata orang gila. Dengan rasa takut aku berlari, Untung saja ada temanku yang memanggilku.
“ Tanti!” temanku mendekatiku.
Dia menawarkan boncengan.
“Ayo cepat naik!” kata temanku.
Aku langsung naik.
“ Terima kasih ya…?” kataku
“ Ya” jawab temanku.
Sampai dilapangan, tepat pukul 15.30 WIB. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan dengan pelan. Hatiku merasa lega, akhirnya aku sampai di lapangan tepat waktu.

***
Read Post | komentar

Cerpen Cinta Janji Ketiga

Janji Ketiga
By : Aulia Ainun



Akhirnya Leni perlu berbangga hati, setelah selama beberapa tahun ikut “ijo lumut” (ikatan jomblo-jomblo imut), kemarin Dhani yang dijuluki pangeran cinta merebut hati Leni.
Bisa dibilang Leni untung dua kali, secara, Dhani adalah pujaan semua gadis, tampang oke, body oke, kantong oke, setia iya, kedua dengan pacaran sama Dhani sekalian ikut terkenal ke permukaan.
Leni ingat betul satu kata yang pertama Dhani ucapkan sebelum ia menyatakan suka ke Leni “Setia” ini dah jadi prioritas utama seorang Leni buat cari cowok yang setia. Buat yang lain bukan masalah.
Farel sahabatnya juga ikut terkenal sebagai asisten sejoli yang baru jadian itu. Kemana-mana ngikut, kecuali saat-saat tertentu. Kalau dibandingkan Dhani Farel kalah jauh dari berbagai segi.
Kebetulan banget di musim penghujan gini, pagi yang awalnya cerah tiba-tiba turun hujanbegitu derasnya. Mana nggak ada paying, dan dibawa Suci adik Leni, mantol dibawa kakak Leni. Terpaksa Leni harus sabar menanti hujan cepat terang. Mau sms Dhani suruh anter, hpnya gak aktif.
Disaat tegang dan menggelisahkan itu, Farel dating sebagai sang penyelamat.
“Berangkat yuk Len, ini aku bawa 2 mantol” ucap Farel ketika baru saja tiba di teras rumah Leni, begitu mantol diserahkan, Leni buru-buru mengenakannya dan langsung menyambar sepedanya.
“Berangkat yuk rel”.
Keduanya terus saja mengayuh sepedanya menembus hujan yang begitu deras menusuk-nusuk. Tepat ketika mereka memasuki halaman sekolah untuk menuju parkiran. Motor dengan kecepatan tinggi melewati mereka. Nggak tahu disengaja atau tidak, melewati genangan air dan menciprat kea rah mereka. Untungnya dia memakai mantol. Sebenarnya Leni mau nyumpahin, tapi dias Cuma mengelus dada, percuma aja orang dah nyampek kepikiran.
Sampai di Sekolah, hampir saja Leni pingsan di tempat begitu melihat Dhani di tempat parker yang masih sepi dia melihatnya dengan jelas, hingga mantol belum juga dilepasnya. Bumi bagai mau runtuh.
Hati siapa yang tak merasa terkhianati, kekasih yang begitu diharap kedatangannya menyerahkan jaket hangatnya untuk seorang gadis lain yang ternyata adalah teman sebangkunya. Mungkin kalau nyerahinnya nggak seromantis itu, mungkin Leni nggak perlu bengong kaya orang bloon nggak bisda ngomong apa-apa.bahkan Cuma bias berdoa, impi buruknya cepat berakhir.
“Len” Farel menyadarkan lamunan Leni dengan menepuk pundaknya,
“Ada apa sih?” Tanya Farel yang tidak menyadari kejadian yang menimpa hati Leni.
Begitu toleh ke kanan-ke kiri, Farel baru menyadarinya. Rupanya kedekatan Dhani dan Aina.
“Biar aku yang urus Len, kamu copot saja mantolnya, terus ikut nglabrak ya, ntar dikira aku yang cemburu”. Pesan Farel sebelum akhirnya dia menyingsingkan lengan bajunya, lantas dengan gaya seorang laki-laki mendekati dhani dan Aina.
“Ehem” Farel berdehem…
Spontan Dhani dan aina memusatkan perhatiannya pada Farel yang kelihatan cuek.
“Eh kamu Rel… Leni mana?”
Farel tetap diam
“Lu tahu kan hari ini hujan”
Kenapa nggak lu jemput Leni malah Aina yang jelas beda jalur sama kamu” semprot Farel hingga hujan local gitu.
“Leni nggak minta jemput kok” jawab Dhani tenang
“Katanya hp lu nggak aktif” kini Dhani yang agak kebat-kebit
Ya emang hari ini aku nggak bawa HP” jawab Dhani nggak mau kalah.
Sekilas pandangan Dhani melihat tubuh Leni yang berlari kea rah kamar mandi belakang ruang X-1. secepatnya Dhani mengejarnya dan mendapati Leni tengah terisak dengan tertahan bersandar di tembok.
“Len… “ panggil Dhani seperti tidak ada kejadian apa-apa, tapi saat mendekat, Leni yang duluan mendekat lebih cepat. Dhani sudah berfikir buruk, jangan-jangan Leni bakal menampar dia, teriak-teriak, marah-marah, tau langsung bilang putus.
“Maafkan aku Dhan, nggak bias percaya sama kamu, kamu pasti nggak punya maksud buat menduain aku, aku tahu kamu cowok baik-baik”. Ucap Leni begitu tetap berhadapan dengan Dhani sambil tangannya mengusap air mata yang tadi sempat menetes, kemudian menunjukkan senyuman seperti hari-hari yang lalu.Dhani lega juga.
“Aku janji nggak akan mengulanginya lagi Len, aku itu tadi Cuma salah paham. Aina yang minta aku jemput dia. Makasih atas pengertian kamu.
“Dhani menepuk pundak Leni halus, seperti membelainya”.
“Ya udah, ke kelas yuk, kuantar”.
***

Semenjak hari itu, bisa dibilang pasangan Dhani dan Leni pasangan teromantis. Nggak kalah sama Ydha dan ajeng di serial “Arti Sahabat” di Indosiar tiap sore itu loh.
Bahkan keduanya rela bersepeda dari rumah ke sekolah yang jaraknya 5km, berboncengan lagi. Otomatis Dhani yang boncengin dan antar jemput.
Udah gitu tiap jam istirahat keduanya selalu bergandengan tangan ke perpustakaan cari buku yang sekiranya sama-sama lagi butuh, kalau nggak ke kantin, otomatis lagi Dhani yang traktir. Kadang Leni yang bayar.
Pokoknya, temen-temen mereka sampai iri berkali-kali soalnya dulu seperti ngremehin Leni, mau aja nerima cinta pangeran cinta yang belum tentu tulus memberinya. Namanya pangeran cinta pastinya menebar cinta kemana-mana, nggak peduli masih punya cewek. Tapi itu perasaan dulu, semua anggap pangeran cinta adalah sosok yang setia.
Yang bikin heboh lagi pas ulangan Dhani dan Leni mendapatkan nilai yang selalu sama. Nggak tanggung-tanggung 9 bulat, ya walau nggak 10 sih, paling tidak dimata pelajaran apaun nilainya 9.
Hubungan mereka masih terus bertahan hampir 2 tahun. Bias dianggap langgeng, soalnya udah jadi kebiasaan, pacaran mungkin paling lama sebulan.
Hari yang ditunggu seluruh warga sekolah dah tiba, yaitu pengumuman kelulusan. Dan ternyata semua lulus.
“Len besok kita ke pantai yuk, buat mrayakan kelulusan kita, ajak sekalian si Farel’. Bisik Dhani
“Oke juga tuh kapan mas?’
“Sekarang yuk?”
Lantas keduanya bangkit, setelah membayar, segera saja keduanya mencari Farel yang ternyata sedng mengutak atik computer perpustakaan. Katanya sebelum keluar dari SMA ini dia dah dapat ilmu kepustakaan, ya mngarsipkan buku gitu.
“Pantai yuk rel?”
Konsentrasinya cepat berubah, menatap sejoli itu tak percaya, benarkah mereka benar-benar ngajak dia kepantai? Atau Cuma gurauan?
“ayolah ini serius” rajuk Leni
Langsung saja ketiganya cabut dari sekolah dan menuju ke pantai, sampai di pantai, dikiranya sepui tapi gila ramai anak-anak sekolahan.
Mereka ngambil tempat duduk di belakang hiruk pikuk itu, duduk berjejer bertiga.
“Ramai banget ya?” ucap Leni memecah kebisuan masing-masing.
“iya kukira sepi”
“pingin mandi dilaut, tapi kok nggak bawa baju ganti” gumam dhani
“Yah jangan dong ntar kmu jadi item” gurau Leni yang lagi hepi juga. Selain dah lulus, nilainya nggak ngecewain.
Tiba-tiba disaat mereka menikmati pemandangan cakrawala buatan allah yang maha indah, Aina dengan temannya menemui mereka.
“siang sob” tatapan bencinya kepada Dhani begitu membara di sudut matanya.
“Hei Dhan, lama kamu nggak kerumah, padahal setahun lalu kita masih sering jalan-jalan bareng, sampai mama nanyain kamu terus lho…” Tanya aina yang sudah duduk disamping Dhani.Dhaninya jadi salting gitu.
“Kenapa kamu bilang cinta ma aku, tapi malah jalan sama Leni sih?” ucap aina tanpa memberi kesempatan pada semua buat ngomong.
“Kamu tega Dhan” spontan tangan aina menampar pipi Dhani, hingga berasa betul di pipi Dhani panasnya.
Aina berlari menjauh membawa genangan air mata di matanya.
“Len ini Cuma rekayasa, dulu aku memang selingkuh, tapi dah berakhir, danaku pingin setia sama kamu, mulai saat itu”
‘Udah selesai ngomongnya?”
“Len…”
“Nggak usah ngeles, semua dah jelas, dan aku udah tahu semuanya, so nggak ada jalan lain. Kamu dah terlalu banyak nyakitin aku. Pantes dari dulu kamu disuruh mampir susah. Ada yang kedua toh, ya udah kita putus”.
“Putus? Sejak kapan kamu bilang saying ke aku, seenaknya bilang putus?” elak Dhani.
Leni menggelengkan kepala sedikit kea rah Dhani
“aku cinta kamu len”
“cinta?, cabut yuk rel” lantas dengan tergesa-gesa Leni berjalan beriringan dengan Farel dan Dhani Cuma bias berteriak memanggil nama Leni.
“Pangeran cinta, makan tuh cinta, “ ucap gadis yang rupanya masih berdiri di samping dhani lantas berlalu.
Dhani menumpahkan kekesalannya dengan menendang pasir-pasir dihadapannya. Awalnya dia selingkuh, tai dah di putuskan buat setia.
“Setia…!!!” teriaknya tak peduli orang-orang pada nontonin dia.

tamat
Read Post | komentar

Cerpen Sehari hari Jerih Payah

Jerih Payah



Mendapat uang dari dari jerih payah sendiri adalah kemenangan dan kebahagiaan. Betapa tidak, selama ini aku hanya seberapapun dari orang tua. Banyak dan sedikit aju harus menerima apa adanya. Saat itu aku tengah berkunjung ke rumah temanku, saat kami tengah berbincang – bincang sambil meneguk kopi hangat dan beberapa makanan ringan, tiba – tiba ayah temanku dating. Dia menyuruh anaknya untuk menyetorkan buah nyamplung ke Jogja, karena dia ada keperluan.

“ Sap, tolong nanti kamu setorkan nyamplung ke Jogja.” dengan menyalakan sebatang rokok kemenyan, pak Wiryo berucap.
Dengan terkejut Saptono menjawab “ Walah ! kok aku sih pak? “
“ Ya siapa lagi? Bapak ada perlu jadi tidak sempat. “ ujar pak Wiryo pelan.
“ Tapi aku tidak berani pak kalau ke sana sendirian. “ Saptono berusaha menolak.
“ Lah, udah gede masa ga berani.” Ucap pak Wiryo tak mau tau.
“ Jangan aku lah pak. “ Saptono memohon. Namun pak Wiryo tetap memaksa.
“ Udah, ga’ usah nolak, itu Hendra suruh nemenin. Katanya dia mau nginep sini, kalau kamu pergi dia gimana? Kan lebih baik kamu ajak. “
“ Ya Sap, aku juga pengen jalan – jalan cari pengalaman. “ sahutku semangat.
“ Ya sudahlah,aku mau pak. “ dengan berdiri Saptono menjawab.
“ Nha,kan enak, ya udah sana siap – siap bapak mau nyiapin nyamplungnya. “ ucap pak Wiryo seraya bergegas ke belakang.

Saat itu udara mulai dingin, sinar keemasan mentari mengintip dari sela – sela pepohonan. Kami mulai bersiap – siap, karena saat itu mentari telah merayap ke ufuk tenggelamnya. Aku dan Saptono hanya diberi uang untuk membeli bensin, tanpa diberi uang untuk makan. Aku memakluminya,karena keadaan pak Wiryo yang sederhana, dia hanya bertumpu pada uang hasil setoran nyamplung yang dikumpulkannya.

“ Nah sudah siap, ini uang buat beli bensin, nanti kalua mau makan setelah nyamplungnya dibayar. “ dengan memberikan uang bensin pak Wiryo berkata.
“ Ya pak, tapi Hendra kasihan, kan dia belum pernah. “ ucap Saptono.
“ Udah ga’ apa – apa,itung – itung cari pengalaman. “ ucapku meyakinkan.
“ Sudah sana berangkat keburu ujan. “ pak Wiryo berkata seraya menatap langit sebelah timur.
“ Yaya..Berangkat dulu ya pak. “ ucap Saptono seraya menghidupkan motor.
“ Ya hati - hati “ dengan tersenyum pak Wiryo berkata.

Dengan mengendarai sepeda motor tanpa SIM kai melaju tidak terlalu cepat. Sepanjang jalan kami jarang bercakap – cakap, karena aku tak ingin mengganggu Saptono yang tengah berkendara. Selang beberapa lama kami berhenti, karena di depan ada polisi, karena takut ditilang, Saptono memutuskan mencari jalan lain.


“ Waduh dap, ada polisi. “ seru Saptono.
“ Wah! Gimana ne Sap? “ aku mulai panic.
“ Kita ambil jalan pintas, tenang aja aku tau jalannya. “ dengan yakin Sapyono berkata.
“ Yakin ga’ ? ntar kesasar lagi. “ ucapku ragu.
Dengan menyeringai Saptono bekata. “ Percaya aja, tak jamin. “
“ Ya udah,aku ngikut aja.” Ucapku.

Akhirnya kami mencari jalan pintas, setelah lama berkendara dan tak kunjung sampai, hatiku mulai ragu. Kakiku mulai pegal,karena memangku 1 kandi penuh nyamplung, namun sebelum aku sempat mengeluh, tiba – tiba Saptono berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman lebar. Rumah itu terlihat sederhana,namun memiliki teras lebar dan banyak tumpukan kandi berisi nyamplung, sebuah timbangan besar tergantung di tengah – tengah teras. Sejenak aku termenung,pandanganku ku layangkan tak berkesip memperhatikan bangunan itu.

“ Udah dap, cepet turunkan bawaan kita. “ suara Saptono menyadarkanku.
“ E…iya,bentar. “ sahutku kaget.

Kami pun membawa bawaan kami ke rumah tersebut,meletakkannya di lantai teras lalu mengetuk pintu. Selang beberapa saat,dari pintu rumah itu muncul pria kekar berambet ikal sebahu dikucir, ternyata dia seorang tengkulak. Dia menanyakan keperluan kami.

“ Ada apa mas? “ Tanya tengkulak sambil melirik kearah bawaan kami.
“ Gimana mas? Bisa nampung ga’ ? “ Tanya Saptono.
“ Waduh mas, maaf banget stoknya dah penuh, liat aja masih banyak kandi – kandi di sini. “ ucap tengkulak menerangkan.
“ Waduh, ga’ bisa diusahain po mas? “ ucap Saptono penuh harap.
“ Ga’ bisa mas udah penuh. “ tegas tengkulak.

Akhirnya kami pulang, menelan bulat – bulat kecewa dan letih, kekecewaan kami bertambah setelah tengkulak lain yang kami datangi juga menolak. Akhirnya kami pulang, dengan segala kekecewaan, letih dan penat.
Malam yang dingin dan sepi menambah berat mataku, aku dan Saptono sangat letih. Sesampainya di rumah, kami mencoba melepas penat kami, kami tertidur pulas. Baru sekejap mata kami terpejam, tiba – tiba pak Wiryo membangunkan kami, dia memin ta kami kembali ke tempat tengkulak Dengan mata berat dan ngantuk, kami pun berangkat kembali. Udara dingin merasuk mengakukan syaraf – syaraf kami, rasa kantuk dan letih, menambah penderitaan kami, jam 3 pagi kami berangkat kembali berbekal harapan bawaan kami bias diterima.
Sang surya mulai terjaga, sinar hangatnya menerangi jagat, keadaan mulai menghangat, memberikan tenaga baru bagi tubuh letih kami. Saat itu kami telah sampai di rumah tengkulak, terlihat aktifitas – aktifitas para pengrajin mengolah nyamplung untuk dijadikan barang kerajinan. Kami menurunkan bawaan kami lalu membawanya ke teras.


“ Assalammualaikum… “ sapa kami.
“ Wa’alaikum salam…” sahut tengkulak.
“ Masih nrima setoran ga’ pak? “ tanya Saptono.
“ Ooo…Bisa – bisa mas, sini tak timbange dulu. “ sahut tengkulak.

Kami merasakan beribu bahagia, akhirnya jerih payah kami tak sia – sia, lelah dan penat kami serta merta hilang. Setelah menerima uang , kami pun bergegas pulang.

“ Makasih pak, kami pulang dulu. “ ucap Saptono.
“ Sama – sama mas, ya.. Hati – hati. “ sahut tengkulak.

Di tengah jalan, bertemu dengan pak Wiryo yang semalam mendahului kami berangkat dengan sepeda onthel, kami pun berhenti.

“ Mau nrima ga’ tengkulaknya? “ tanya pak Wiryo.
“ Udah pak… “ sahut kami.
“ Syukur kalau gitu, lha uangnya mana? “ tanya pak Wiryo seraya mengulurkan tangan.
“ Ini pak, 2 kandi dibayar segini. “ tutur Saptono.
“ Alhamdulillah… Ga’ apa – apa, nah.. Ini uang buat kalian karena dah Bantu bapak.” Ucap pak Wiryo seraya memberikan uang 100 ribu rupiah pada kami.
“ Wah… Makasih banget pak.. “ ucap kami.
“ Terus baoak pulangnya gimana? “ aku mengajukan pertanyaan.
“ Ya naik sepeda, Kalian jalan saja dulu.. Bapak mau mampir pasar dulu. “ ucap pak Wiryo, sebuah senyuman menghiasi bibirnya.
“ Wah.. yo capek banget pak.” Ucapku kaget.
“ Lah..Bapak udah biasa Hen.. “ sahut Saptono.
“ Ya, bapak udah biasa.. Kalian pulang aja dulu “ tungkas pak Wiryo.
“ Ya udah, kami pulang dulu ya pak. “ kata Saptono.
“ Ya hati – hati. “ jawab pak Wiryo.

Kami pun pulang, aku mengendarai sepeda motor dan Saptono membonceng, ini pengalaman pertamaku, karena aku baru belajar naik motor, meski takut tapi aku tetap nekat. Di perjalanan Saptono tidur karena sangat letih dan mengantuk aku pun merasakan hal yang sama, mataku terasa berat, tapi aku berusaha tetap terjaga karena aku masih berkendara. Di tengah jalan, tanpa kusadari mataku terpejam, aku berseru kaget ketika mendengar klakson truk menggema, begitu aku membuka mata kepala truk sudah 1 meter di depan motor, dalam kagetku kubanting stang ke kanan. Saptono terbangun kaget, saat itu motor telah keluar jalur menabrak pembatas jalan, namun kami tak terluka karena aku masih sempat mengerem. Sejenak kami tertegun, kami merasa sangat kaget, setelah tersadar kami tertawa, lalu melanjutkan perjalanan.
Pengalaman yang tak terlupakan olehku, saat aku merasakan jerih payah mencari uang, aku belajar dari pengalaman itu, bahwa tak mudah untuk mendapatkan sesuatu. Kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, dan jangan pernah putus asa.
Sekian...

Read Post | komentar

Cerpen Cinta "SEINDAH MATA KRISTALNYA"

Jumat, 08 Oktober 2010

SEINDAH MATA KRISTALNYA
cerpen cinta
Malam bergulir perlahan. Detak jarum jam dinding di kamarku terdengar jelas. Kota Jakarta terlelap dalam tidur. Hanya sesekali terdengar raungan kendaraan. Menggerung keras lalu lenyap ditelan kesunyian.
Pukul dua dinihari.
Aku menyeka sebuah luka memar di sekitar kelopak mataku dengan air hangat. Bekas luka pukulan itu, setelah seminggu perlahan-lahan mulai hilang.
Kini aku menatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kenapa itu kamu lakukan, Renaldi? Kenapa kamu mati-matian membela gadis itu? Kenapa kamu tidak pernah berkompromi kepada seseorang yang telah membuat mata bening milik gadis itu mempunyai pesona lain dalam hatimu, Renaldi? Ataukah, kamu mempunyai perasaan khusus pada gadis itu yang sampai saat ini masih kamu sembunyikan? Yang sampai detik ini tidak pernah kamu ungkapkan?!
***
"Hei, Janna. Kamu tahu tidak kenapa aku sampai saat ini terus memanggilmu, Kristal?" Suatu hari enam bulan lalu menjelang pelajaran matematika aku membisikkan kalimat itu.
Janna menatapku.
"Karena aku anak Mama yang ke mana pun pergi selalu diantar dan dijaga?" sahut Jannya yakin.
Aku menggeleng sembari tersenyum.
"Karena aku merupakan kaum hawa, yang sering diidentikkan oleh kaummu sebagai penghias dunia kan?" Janna melirikku. Membuka tas sekolah dan mengeluarkan diktat.
Aku tertawa. Lantas menggeleng.
"Dih, memangnya aksesoris?" ledekku.
Janna mengernyitkan keningnya.
"Karena aku seorang gadis yang hatinya mudah patah berkeping-keping seperti kristal?" pancingnya, bertanya.
Lagi-lagi aku menggeleng.
"Apaan dong, Re?" Janna penasaran. Menatapku beberapa saat, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku.
"Karena kamu mempunyai mata bagus dan sebening kristal," jawabku kemudian sembari menikmati mata indah milik gadis itu.
Janna membelalak. Mencubitku gemas sambil menggigit bibirnya sendiri.
"Jujur, Na. Matamu bagus. Bening bak telaga. Juga teduh. Malah kadang-kadang aku sering berkaca di bola matamu itu," kubiarkan wajah Janna tersipu-sipu.
Tinggi semampai, wajah terkesan aristokrat, dan bermata bagus, itu kesan pertama ketika aku mengenal Janna. Ia memang favorit di sekolahku. Ramah dan supel. Kesannya yang cuek dan tidak pernah memilih-milih teman, membuat Janna tumbuh menjadi cewek favorit di SMA-ku.
"Kamu tahu apa yang ada di dalam hatiku saat ini, Kristal?" Mataku menatap lurus ke depan. Memperhatikan Pak Tito yang mulai sibuk memeriksa pe-er yang diberikan hari kemarin.
"Apa, Re?" bisik Janna lirih.
"Aku tidak ingin seorang pun yang akan melukai mata bagus itu." Aku tersenyum. Melindungi kupingku dari cubitan Janna dengan buku diktat.
"Trims, Re. Kamu memang sahabatku yang terbaik." Tanpa melirikku, Janna meluncurkan kalimat itu.
Keakrabanku dengan Janna, sudah terjalin sejak kelas satu SMA. Malah sebagaian teman-teman menyangka kalau Janna adalah cewekku. Tetapi aku tidak pernah berpikir untuk itu. Tekadku waktu itu hanya satu. Aku ingin menjadi sahabat Janna yang terbaik. Tanpa menodai rasa persahabatanku itu dengan perasaan cinta yang sering berakhir dengan kebencian. Aku tak ingin hal itu terjadi. Aku hanya ingin melihat mata kristal Janna itu terus bersinar cerah. Bibir sensualnya terus berceloteh riang. Itu saja keinginanku. Meskipun aku sempat menangkap sinyal kalau sebenarnya Janna sering memberiku lampu hijau untuk mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lebih khusus. Tetapi ternyata aku ragu. Takut kalau suatu saat aku melukai hati Janna. Takut kalau suat saat aku akan menorehkan sembilu di hati gadis itu dan membuat mata kristal miliknya berubah kelabu. Sampai suatu saat Janna mengatakan padaku kalau Bian, anak II.3.B, yang sejak kelas satu mengejarnya dengan sabar, telah menjadi bagian dari hari-hari Janna.
Setelah hal itu terjadi, di hati kecilku, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang hilang. Dan aku yakin sesuatu itu adalah Janna.
Lalu semuanya memang berubah. Hari-hari Janna memang tak pernah tersisa lagi untukku. Aku lebih banyak berdiam diri, dan berusaha keras untuk tidak bertegur sapa. Hanya sesekali aku meliriknya jika kebetulan melewati meja Janna. Janna pun demikian. Tampaknya ia tahu akan sikapku. Ia terus menghindariku. Tak pernah lagi mengajakku ke kantin, ke perpustakaan. Aku pun maklum karena Bian selalu ada di sampingnya. Hampir enam bulan hal itu terjadi. Sampai suatu saat aku melihat mendung menggayut di wajah Janna. Dan hal itu membuat hati kecilku tidak tega melihatnya.
"Kamu punya maslah, Kristal?" Usai pelajaran fisika, aku menghampiri meja Janna.
Mata Janna sejenak berbinar menatapku. Sesaat kemudian mendung kembali menggelayut.
"Re, kita ke kantin, ya?" Bibir sensual itu tersenyum ragu. Ini adalah senyum pertama yang diberikan Janna setelah sekian bulan kami tak bertegur sapa.
"Kamu mau traktir aku, Kristal?" tanyaku sembari membantu memasukkan buku-buku pelajaran yang berceceran di meja belajarnya.
"Ada yang ingin kubicarakan," jawab Janna. Jari lentiknya menyalin rumus terakhir Teori Einstein dari papan tulis.
"Punya problem, Kristal?" tanyaku lagi. Meraih tas sekolahnya dan memasukkan ke dalam laci meja.
Janna mengangguk.
"Problem apa?" Kutatap wajah manis Janna. Ada kerinduan meledak di relung hatiku. Mata itu, Tuhan! Betapa aku sangat merindukan itu! Tapi kenapa mata kristal itu berubah kelabu?!
"Kita bicara di kantin saja ya, Re?" rujuk Janna.
"Terlalu privacy?"
Janna mengangguk lagi.
"Kantin pasti ramai. Bagaimana kalau kita ke cafe Pelangi?"
"Oke, Re. Kita ke cafe," jawab Janna seraya menggandeng tanganku keluar dari kelas.
***
Cafe Pelangi terletak persis di seberang jalan dari sekolahku. Cafe mungil itu merupakan tempat favorit yang kusinggahi bersama Janna. Tempatnya asri. Ada musik lembut dari tiupan saksofon Kenny G., yang kadang-kadang diselingi hentakan cadas kelompok band Linkin Park. Aku sengaja memilih tempat di sudut cafe. Hanya ada seorang pengunjung yang terlihat santai menikmati jus apel dan sebatang rokok. Lelaki separo baya itu terlihat santai dengan dunianya. Sesekali menyedot sigaret di bibirnya lalu asapnya dihembuskan ke langit-langit cafe. Asap rokok itu melayang-layang sejenak lalu melesat dan lenyap lewat jendela cafe.
"Kamu mau pesan apa, Kristal?" Aku mulai membuka-buka daftar menu yang tergeletak di atas meja.
"Kamu masih memanggilku Kristal, Re?"
Aku tersenyum.
"Aku akan terus memanggilmu, Kristal," sahutku. Menelusuri wajah aristokrat yang telah berbulan-bulan tidak pernah lagi kutatap.
"Oya, mau pesan apa?"
"Aku tidak pesan apa-apa, Re," sahut Janna.
"Teh botol, ya?" tawarku.
"Terserah kamu saja."
Aku memesan dua teh botol dan dua bungkus kentang goreng.
"Sekarang kamu ingin membicarakan apa?" Aku memulai pembicaraan serius usai menyerahkan pesanan kepada pelayan.
Janna menatapku sejenak. Gadis itu masih terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan masalahnya.
"Soal Bian, Re." Akhirnya bibir sensual itu terbuka dengan berat.
"Bian?"
Janna mengangguk.
Teh botol dan kentang goreng pesanan tiba di meja kami.
"Ada apa dengan Bian?" tanyaku serius.
Janna menatapku dengan wajah murung.
"Dia selingkuh, Re." Bibir sensualnya bergetar. Dua butir bening menggelinding dari matanya. Merembes lamat di kedua pipinya yang putih.
Sesuatu mengiris ulu hatiku!
Aku mengambil tisyu dan mengeringkan cairan bening itu dari pipinya.
"Aku sedih mendengarnya. Kamu tahu, Kristal. Aku kadang sering berdoa agar hubungan kamu dengan Bian abadi," kalimatku mengambang. Aku menjangkau teh botol dan membasahi kerongkonganku dengan cairan manis itu.
Janna menatapku tak berkedip. "Aku sendiri tidak tahu, Re. Kenapa Bian tega melakukan itu."
Ada isak tangis di sela-sela kalimat Janna.
"Kamu yakin Bian mengkhianati kamu?"
"Aku memergoki sendiri, Bian berjalan dengan mesra dengan seorang cewek."
"Mungkin itu saudaranya?"
"Bukan, Re. Saat itu juga aku menghampiri Bian. Dan Bian mengatakan kalau sebenarnya dia tidak mencintai aku!"
Aku tersedak.
"Begitu?!"
"Ya, Re. Menyakitkan. Aku seperti sampah tak berguna di depan cewek Bian yang baru. Aku malu, Re." Kini aliran sungai dari kelopak mata itu mengalir deras.
"Berarti Bian itu berengsek, Kristal! Dan, aku ingin memberi pelajaran padanya!" Sesuatu meledak di hatiku, memaksaku mengatupkan geraham dan mengepalkan tangan dengan keras.
"Ja-jangan, Re!"
"Kristal, aku pernah berjanji, aku tidak ingin siapa pun melukai hatimu!"
"Aku tahu, Re. Tapi bukan itu yang aku inginkan." Janna menghela napas.
Di luar cafe, angin bergerak gemulai. Menggoyang-goyangkan pucuk flamboyan dengan sesekali menerbangkan bunga-bunga dari rantingnya.
"Aku hanya ingin meminta maaf, Re. Selama ini aku telah membuat jarak dengan kamu," ucap Janna lembut. Menatapku untuk beberapa saat dengan mimik bersalah.
"Lupakanlah, Kristal. Aku maklum."
"Kamu masih menganggap aku sahabat, Re?" Janna menatapku dengan sungguh-sungguh.
Aku mengangguk. "Kamu masih sahabatku yang terbaik, Kristal."
Sesuatu kembali berkelebat di kelopak mata Janna. Mata bening itu kembali bersinar ceria. Dan aku menikmatinya.
***
Siang, sepulang sekolah aku sengaja meninggalkan Janna. Bersembunyi di kantin lalu menunggu kelas Bian bubaran. Aku telah berjanji akan memberi pelajaran buat Bian yang sok playboy. Yang telah dengan lancang dan sengaja mencampakkan cinta tulus Janna.
Tepat pukul satu kelas Bian bubaran. Buru-buru aku berlari dan menjejeri langkah cowok bertubuh gempal itu.
"Kenapa kamu khianati, Janna?!"
Aku cegat langkah Bian.
Wajah cowok itu tersentak, sejenak, lalu menghentikan langkahnya. Ditatapnya mataku tajam, lantas tersenyum dengan pongah.
Ya, Tuhan!
Rasa-rasanya ingin kulayangkan sebuah tinju ke hidungnya yang bangir!
"Kamu ingin menjadi pahlawan?" lontarnya seringan kapas.
Teman-teman sekelas Bian mengerubuti aku.
"Pukul, Bi!" teriak salah seorang teman Bian yang berdiri di sisi Bian.
"Hajar!" Satu lagi kawan sekelas Bian membakar hati Bian.
Tanpa diselingi teriakan yang ketiga, Bian si Jagoan Sekolah melayangkan pukulan yang sangat keras ke wajahku.
Aku terhuyung sesaat karena tidak menyangka Bian akan bergerak secepat itu. Beruntung sebuah tiang menahan tubuhku. Lalu aku membalas, menghajar Bian dengan tendangan kempo. Bian terhempas oleh cangkungan kakiku tadi, tampak meringis berusaha menahan sakit. Namun secepat kilat tubuhnya yang gempal itu menerkam aku.
Siswi-siswi yang melihat adegan itu menjerit-jerit ketakutan.
Napasku tersengal saat tubuh kekar Bian menghimpitku. Berkali-kali bogem mentah miliknya hinggap di wajahku. Sampai suatu saat beberapa guru memisahkan perkelahian satu lawan satu itu.
Akhirnya, Bian dan aku diskors satu minggu akibat perkelahian memalukan itu!
Namun aku tidak menyesal, meski harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun!
Membela dan melindungi Janna adalah harkat tertinggi dalam hidupku.
Aku tidak ingin ada orang yang menyakiti hatinya.
Tidak siapa pun!
***
Mula-mula sinar matahari pagi yang menyentuh mataku. Kepalaku terasa berat karena aku tidur terlambat. Hari Sabtu ini aku memang tidak masuk sekolah. Ini hari terakhir masa skorsku.
Aku bangkit dari ranjangku, dan sudut mataku tertumpu pada makhluk manis dengan seragam putih abu-abu sedang duduk di meja belajarku.
"Kristal?!" Mataku membelalak tak percaya.
Janna tersenyum.
"Sudah bangun, Re?" tanyanya sembari tersenyum.
"Kamu tidak sekolah?" tanyaku heran.
Janna menggelengkan kepala.
"Tadi ke sekolah sebentar. Tapi ada acara kerja bakti. Aku telepon ke sini. Kata Mama kamu, kamu belum bangun. Lalu, aku minta izin sama guru piket mengurai dalih sedang ada urusan keluarga, tidak ikut kerja bakti. Lalu, jadilah aku kemari," urai Janna ceria, mengangkat bahunya mengaba 'tidak apa-apa, kan?'. Mata beningnya bergerak indah. Menatap sesuatu yang tertempel di dinding kamarku.
Aku mengikuti pandangan mata kristal itu. Dan mukaku merah. Aku telah melakukan kebodohan. Foto besar Janna yang tertempel di dinding itu lupa kusimpan — tentu saja, karena siapa yang menyangka cewek itu akan datang mendadak lantas duduk sekarang di hadapanku!
"Mungkin kamu tidak akan percaya, Re, kalau aku juga menempel foto kamu di dinding kamarku," ungkap Janna dengan suara tertahan. Pipinya nampak memerah. Tetapi dia cepat mengalihkan paras wajahnya yang 'malu' itu dengan bergerak ke arah jendela, menarik gordin dan mementangkan daun jendela. Angin pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamarku yang mungil.
Aku terdiam, terkesima dengan pengungkapannya yang jujur.
"Selama ini kita sama-sama muna kan, Re?!" Janna mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajahku.
Aku tertunduk. Tak berani menatap sepasang bola mata kristalnya yang tengah memancarkan kesungguhan.
"Aku takut melukai hati kamu, Kristal! Untuk itu, aku tidak pernah mengingkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar persahabatan. Meskipun sebenarnya aku...."
"Kamu tidak pernah berterus terang, Re!"
"Sori, Re. Aku...."
"Kamu mencintai aku kan, Re?!" Janna berjalan mendekatiku, duduk di samping saat tiba di gigir ranjang.
Aku terkesiap. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang pengecut. Tidak pernah jujur dengan isi hatiku sendiri sehingga menciptakan tirai maya yang memenjarakan aku dalam siksaan yang luar biasa sakitnya.
"Ak-aku...."
"Tak perlu kamu katakan, Re! Dari sikapmu, tatapanmu, aku tahu kalau sebenarnya kamu mencintaiku!" Mata beningnya menatapku tajam.
Aku mengangkat wajah. Mencoba membalas tatapannya yang tulus. Dan beberapa saat kemudian kami saling berpandangan. Lama. Lama sekali. Tiba-tiba ada senandung indah menggelepar di ruang hatiku. Senandung cintakah itu?
Aku tersenyum. Menikmati kerjapan bening mata kristal milik Janna, dan membiarkan senandung cinta itu mengalun indah di hatiku.
Indah, seindah mata kristalnya.

TAMAT
Read Post | komentar

Kliping Laporan Seni Tari SMA

Selasa, 10 Agustus 2010

LAPORAN SENI TARI INDIA
SEMESTER II

I
II
II
I


Disusun Oleh :
1. Desi (6)
2. Eni S (10)
3. Ernawati O(12)
4. Retno S(25)
5. Sinta(28)



SMA N PURWOREJO
Tahun Pelajaran 2009/2010



KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan taufik dan hidayahnya sehingga memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kami dapat menyusun laporan akhir pelajaran Seni Tari ini.
Laporan ini disusun untuk melengkapi salah satu tugas Seni Budayakelas IX IPS 3 SMA N Purworejo, guna sebagai tugas akhir semester II. Laporan ini dapat tersusun berkat bantuan dari berbagai pihak yang telah berkenan membimbing dan memberikan petunjukoleh karena itu pada kesempatan ini perkenankanlah kami mengucapkan terimakasih kepada :

1. Allah SWT
2. Bpk. Drs. H. Bunadi, M.M selaku pembibing
3. Ibu Eni Wahyuti R, S.Pd. selaku pembimbing
4. Ibu Sri Sudaryati
5. Orang-orang terdekat yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penyusun telah berusaha semaksimal mungkin agar laporan ini dapat tersusun dengan baik. Namun, sebagai manusia kami tidak dapat lepas dari kekeliruan dan kekhilafan, sehingga laporan masih jauh dari sempurna karena pepatah mengatakan “tiada gading yang tak retak”. Oleh karena itu demi kemajuan diri, kami sangat mengaharapkan saran-saran dan petunjuk dari berbagai pihak.




Penyusun, 30 Mei 2010


PERSEMBAHAN


Laporan ini kami persembahkan kepada:
1. Orang tua kami tercinta yang telah telah memberikan dukungan.
2. bapak dan Ibu Guru tercinta.
3. Semua teman-teman kami di SMA N Purworejo.
4. Seluruh warga SMA N Purworejo.
5. Bapak H.Bunardi MM selaku Kepala Sekolah SMA N Purworejo.
6. Bapak Fathurohman selaku Wali kelas XI IPS 3
7. Ibu Eni Wahyuti sebagai guru kesenian dan sekaligus pembimbing kami.
8. Orang tua yang telah membesarkan dan menyekolahkan kami.
9. Rekan-rekan yang telah membantu dalam pagelaran ini.
10. Penulis laporan ini terima kasih atas bantuannya.


MOTTO

  • Tidak ada yang bias dicapai tanpa usaha (Adlai Stevenson)
  • Berani tanpa disertai kesabaran akan membunuh diri kita, ambisius tanpa kesabaran dapat memusnahkan karier dan berjuang tanpa kesabaran akan mengablaskan milik yang sudah ada (Og Mandino)
  • Hanya sedikit diantara kita yang matanya cukup tajam untuk melihat kesalahnnya sendiri.
  • Orang yang bijak akan mengoreksi kesalahannya berdasarkan kesalahan yang dibuat orang lain.
  • Setelah kebijaksanaan akan muncul kebahagiaan (Evan esar).

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Seni merupakan perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya yang bersifat indah sehingga dapat mengerakkan jiwa dan perasaan.Tanpa kita sadari, kita mungkin melakukan banyak hal yang berhubungan dengan seni. Misalnya : seni musik, seni tari, seni lukis, keterampilan dan masih banyak seni-seni yang lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita hamper tidak lepas dari kesenian. Saat kita mendengarkan lagu, tanpa kita sadari kita menikmatinya bahkan sampai menirukannya. Tidak hanya itu, saat kita mendengar musik dengan spontan kita ingin menari mengiringi musik tersebut.
Kami menyusun laporan ini karena kami ingin belajar menyusun sebuah laporan seni dan sebagai hasil laporan kegiatan yang selama ini telah kami laksanakn. Hal ini juga tidak lepas dari tugas Seni Budaya.
Dengan alas an tersebut diatas kami menyusun laporan yang berjudul “Laporan Akhir Penilaian Seni Budaya Kelas XI IPS 3”. Dengan harapan mampu meningkatkan minat para pembaca di bidang Seni Budaya, sehingga seni tidak pernah punah dan tetap dilestarikan.

B. Maksud dan Tujuan

Kami menyusun laporan ini dengan maksud untuk menumbuhkan minat para siswa dan pembaca dalam bidang seni.serta untuk mengetahui adanya kreatifitas dan imajinasi para siswa dalam bidang seni, Dalam kegiatan ini juga dapat mempererat tali persaudaraan antar siswa karena seringnya latihan-latihan dan dalam hal itu juga diperlukan kerjasama yang baik antar siswa.
Selain itu kami menulis laporan ini dengan tujuan :

1. Belajar menyusun sebuah karya tulis tentang garapan Seni Budaya.
2. Untuk memenuhi tugas Seni budaya.
3. Meningkatkan budaya-budaya seni yang hamper punah di Indonesia.
4. Menghilangkan anggapan bahwa seni itu sulit, karena sebenarnya seni itu mudah dan menyenangkan.
5. Untuk mengetahui bakat dan minat siswa di bidang seni.
6. Untuk meningkatkan kreatifitas dan imajinasi para siswa.
7. Untuk melengkapi koleksi buku-buku perpustakaan.

PENDUKUNG


Seni tari di zaman era globalisasi seperti ini jarang sekali peminatnya. Pada zaman sekarang seni lebih unggul sehingga dalam keadaan seperti inilah, kami ingin seni tari lebih maju dan berkembang.
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas akhir smester II ini dengan lancer.
Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada Drs. H.Bunadi, MM selaku Kepala Sekolah SMA N8 Purworejo, Ibu Eny sebagai pembimbing utama, atas bimbingan dan sarannya sehingga penyusunan tugas akhir semester 2 ini dapat diselesaikan. Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada keluarga Sri Sudaryati yang telah memberikan kesempatan kepada kami (anggota seni tari) selama ini untuk mengkreasikan gerak sehingga menjadikan kami lancer dan lebih baik lagi dalam mengembangkan kreasi gerak.

SENI BUDAYA


1. Thomas Munro
Seni adalah manusia yang menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya.
2. Plato
Seni adalah peniruan bentuk alam dengan segala aspek-aspeknya.
3. Aristoteles
Seni adalah peniruan bentuk alam dengan segala aspeknya di tambah dengan ide penciptanya.
4. Herberd Read
Seni adalah ekspresi
5. Ki Hajar Dewantara
Seni adalah perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah sehingga dapat menggerakan jiwa dan orang lain.

UNSUR-UNSUR SENI
Keindahan(estetika)
Estetika berasal dari kata Aesthesis yang artinya perasaan pencerapan dan persepsi.

Definisi estetika menurut para ahli
1. Leo Tolstoy
Keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan rasa menyenagkan bila di lihat.
2. Alexander Baumgarten
Keindahan di pandang sebagai kesatuan yang yang merupakan susunan yang teratur dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dan secara keseluruhan.
3.Sulzer
Yang indah itu yang baik yaitu yang dapat memupuk rasa moral.
4. Immanuel Kant
Meninjau keindahan dari 2segi

a. Subjektif
Keindahan adalah sesuatu yang tanpa di renungkan dan tanpa disangkut pautkan dengan kegunaan praktis dapat mendatangkan rasa senang pada si penghayat.
b. Objektif
Keindahan adalah keserasian suatu obyek terhadap tujuan yang dikandungnya sejauh obyek terhadap tujuan yang dikandungnya sejauh obyek tersebut tidak ditinjau dari segi fungsi.
5. Thomas Aquinas
Keindahan akan tercipta bila telah memenuhi 3 syarat.
a. adanya integritas atau perteksi, keutuhan. Kesempurnaan, keterpaduan.
b. Adanya proporsi yang tepat dan harmonis.
c. Adanya kloritas atau kejelasan.

PENUTUP

Alhamdulillah berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa kami sekelompok dapat menyelesaikan pergelaran dan juga membuat laporan ini. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi saran dan dorongannya.
Walaupun dalam menyusun laporan ini kami mengusahakan dengan semaksimal mungkin, tetapi walaupun demikian pasti jauh dari yang sempurna baik penyusunnan maupun penyajiannya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Demikian semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kami dan juga bagi pembaca.
Amin!!!
Read Post | komentar
 
© Copyright mix's BLoG 2012 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
| by MIX